Bahasa dan makna sosial masyarakat Minangkabau pascagalodo

Abstract

Penelitian ini mengkaji bahasa dan makna sosial masyarakat Minangkabau pascagalodo di Nagari Muaro Aia, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Fokus penelitian mencakup bentuk bahasa, makna leksikal, konteks sosial penggunaan bahasa, dan nilai budaya dalam komunikasi kebencanaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara dan dokumentasi dengan informan yang memiliki pengalaman langsung menghadapi banjir dan longsor. Analisis data meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan semantik Lyons, etnografi komunikasi Hymes, serta nilai budaya Djamaris. Hasil menunjukkan penggunaan leksikon seperti galodo, aia gadang, aia dareh, aia masuak, anyuik, cameh, waspada, mangungsi, dan maevakuasi. Leksikon tersebut merepresentasikan fenomena alam, dampak bencana, pengalaman sosial dan emosional, serta tindakan penyelamatan. Komunikasi dilakukan melalui peringatan langsung, teriakan, pengeras suara masjid, dan tokoh lokal. Nilai budaya meliputi kewaspadaan, gotong royong, solidaritas, serta pelestarian pengetahuan lokal yang mendukung ketahanan komunitas dan relevansi SDG 11 serta SDG 13 dalam menghadapi risiko bencana secara berkelanjutan.

How to Cite
Revita, I., Syaputri, W., Maler, W., Febrina, R., Subarkah, M., Arifah, R., … Az-Zahra, H. (2026). Bahasa dan makna sosial masyarakat Minangkabau pascagalodo. Lentera Negeri, 7(1), 1834–1847. https://doi.org/10.29210/994090